Tafsir Syekh Yusuf Al-Makassariy Tentang Ayat-Ayat Ketuhanan Dalam Zubdat Al-Asrār (Studi Living Qur’an)
Abstract
Abstract:
The objectives of this study are: 1) To describe the profile of Sheikh Yusuf al-Makassari as a charismatic Indonesian Sufi figure; 2) To understand the concept of divinity in the verses of the Qur'an according to Sheikh Yusuf al-Makassari; 3) To analyze Sheikh Yusuf's interpretation of the divine verses in Zubdat al-Asrār based on a study of the living Qur'an. This research is qualitative with a multidisciplinary approach that emphasizes the principles of tafsir science, emphasizing the study of the living Qur'an. The research type is library research, but because it is a living study, it is accompanied by interviews to obtain more accurate data. The data was collected by quoting, adapting, and analyzing representative literature and interview results using content analysis. The data was processed deductively, inductively, and comparatively. Data testing was conducted using triangulation, member checking, and referential adequacy checks, followed by conclusions. This research concludes that Sheikh Yusuf al-Makassariy, in addition to being a Sufi figure and the murshid of the Khalwatiyah order, was also a mufassir (interpreter of the Quran). He interpreted divine verses in his work, Zubdat al-Asrar. According to Sheikh Yusuf, the concept of divinity in the Quranic verses can be understood in two terms: Rabb (Lord) and Allah. According to him, these verses describe Allah as the source of humanity, originating from Nurullah (God), who then transformed into Nurul Muhammad (Soul) and Nurul Adam (Human Body). Sheikh Yusuf's interpretation of the divine verses in Zubdat al-Asrār refers to the monotheism sentence Lā Ilāha Illallāh which is then interpreted in the divine verses in the concept of al-Ma'iyyah and al-Muḥīṭ or al-Iḥāṭah. The concept of al-ma'iyyah consists of two, namely ma'iyyah 'ilmiyyah and ma'iyyah qudrah. Furthermore, Sheikh Yusuf in his interpretation formulated the concept of al-iḥāṭah, namely that one includes everything, one is everywhere, meaning that Allah is One and His knowledge includes everything and His existence is His existence together with everything because without Him everything does not exist.
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap tiga fokus utama: pertama, mendeskripsikan profil Syekh Yusuf al-Makassariy sebagai seorang tokoh sufi Nusantara yang memiliki kharisma luar biasa; kedua, mengeksplorasi pemahaman beliau mengenai konsep ketuhanan yang termaktub dalam ayat-ayat al-Qur’an; dan ketiga, mengkaji secara kritis bagaimana penafsiran Syekh Yusuf terhadap ayat-ayat ketuhanan dalam karya Zubdat al-Asrār, menggunakan pendekatan studi living Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dikembangkan dalam kerangka multidisipliner, dengan fokus utama pada prinsip-prinsip ilmu tafsir, khususnya melalui pendekatan living Qur’an. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research), namun karena penelitian ini berlandaskan pada praktik living Qur’an, maka metode wawancara turut diterapkan sebagai upaya untuk memperoleh data yang lebih mendalam dan kontekstual. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik kutipan, penyaduran, serta analisis terhadap sumber literatur yang relevan dan hasil wawancara yang telah dilakukan. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode deduktif, induktif dan juga pendekatan komparatif. Untuk menjamin validitas data, dilakukan proses triangulasi, pemeriksaan kembali oleh informan (member check), serta pengecekan kecukupan referensial (referential adequacy checks) sebelum akhirnya ditarik kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Syekh Yusuf al-Makassariy tidak hanya dikenal sebagai tokoh sufi yang memimpin tarekat Khalwatiyah sebagai seorang mursyid, tetapi juga merupakan seorang mufassir (penafsir al-Qur’an) yang memiliki pemikiran spiritual mendalam. Dalam karya monumentalnya, Zubdat al-Asrār, beliau menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan konsep ketuhanan dengan pendekatan sufistik yang khas. Menurut Syekh Yusuf, ayat-ayat ketuhanan dalam al-Qur’an dapat dipahami melalui dua istilah utama, yaitu Rabb dan Allah. Ia menjelaskan bahwa penciptaan manusia berasal dari Nūrullāh (cahaya Ilahi), yang kemudian menjelma menjadi Nūru Muhammad sebagai ruh dan dilanjutkan menjadi Nūru Ādam sebagai representasi jasmani manusia. Pandangan ini menegaskan bahwa hakikat manusia bersumber dari cahaya ketuhanan yang suci dan murni. Dalam penafsiran ayat-ayat ketuhanan di Zubdat al-Asrār, Syekh Yusuf menekankan pentingnya pemahaman terhadap kalimat tauhid Lā Ilāha Illallāh, yang kemudian dijabarkan melalui konsep al-Ma’iyyah dan al-Muḥīṭ atau al-Iḥāṭah. Konsep al-Ma’iyyah ini terbagi menjadi dua bagian, yakni ma’iyyah ‘ilmiyyah (kebersamaan dalam ilmu) dan ma’iyyah qudrah (kebersamaan dalam kekuasaan). Sementara itu, al-Iḥāṭah dimaknai sebagai keberadaan Allah yang mencakup dan meliputi segala sesuatu. Dalam pandangannya, Allah itu Maha Esa, dan ilmu-Nya menjangkau seluruh eksistensi. Keberadaan-Nya senantiasa menyertai seluruh ciptaan, karena tanpa kehadiran-Nya, tidak ada satu pun yang dapat eksis.
Kata Kunci:
Al-Qur’an. Ayat-ayat, Ketuhanan, Living, Tafsir.






