PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PJBL DALAM MEGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK DI SDIT IKHTIAR UNHAS MAKASSAR
Résumé
The transition to the Kurikulum Merdeka (Independent Curriculum) demands a paradigm shift from behaviorist learning toward student-centered constructivism. However, initial observations reveal a deficit in mathematical critical thinking skills at the elementary school level, where students struggle with logical analysis and drawing conclusions. This study aims to deconstruct in depth the implementation process of PjBL, analyze the manifestation of critical thinking skills during the intervention, and evaluate the pedagogical contribution of PjBL to students' cognitive escalation. Using a descriptive qualitative design, this study involved 25 fifth-grade students and one teacher at SDIT Ikhtiar Unhas Makassar, selected through purposive sampling. Data collection was rigorously conducted through participatory observation, semi-structured in-depth interviews, and document analysis, which were then analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña (2020). The results of the investigation reveal that the PjBL syntax orchestrates a highly interactive learning ecosystem. A positive anomaly was found where the ability to analyze information reached peak participation (96%), even though the technical completion of the project demanded a high cognitive load (84%). PjBL is empirically proven to break learning passivity by facilitating problem identification, logical argumentation, and data synthesis. Theoretically, these findings reinforce Vygotsky's social constructivism postulate within the context of elementary mathematics. Practically, this study recommends PjBL as an essential praxis within the architecture of the Kurikulum Merdeka to accelerate critical numeracy literacy.
Keywords: PjBL; critical thinking; Kurikulum Merdeka; mathematical cognition; elementary education
Transisi menuju Kurikulum Merdeka menuntut pergeseran paradigma dari pembelajaran behavioristik yang berpusat pada peserta didik. Namun, observasi awal menunjukkan adanya defisit kemampuan berpikir kritis matematis pada tingkat sekolah dasar, di mana peserta didik kesulitan melakukan analisis logis dan mendapatkan kesimpulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam tentang proses penerapan PjBL, menganalisis perkembangan kemampuan berpikir kritis selama pembelajaan di sekolah, dan mengevaluasi kontribusi pedagogis PjBL terhadap perkembangan peserta didik. Menggunakan desain kualitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan 25 peserta didik kelas V dan satu guru di SDIT Ikhtiar Unhas Makassar, dipilih melalui purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara menyeluruh melalui observasi partisipatif, wawancara berdasarkan pedoman wawancara dan analisis dokumen, yang kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña (2020). Hasil penelitian mengungkap bahwa sintaks PjBL mewujudkan belajar yang sangat interaktif. Terdapat temuan penting di mana kemampuan menganalisis informasi mencapai puncak partisipasi (96%), meskipun penyelesaian teknis proyek menuntut beban kognitif yang tinggi (84%). PjBL terbukti secara empiris mendobrak kepasifan belajar dengan memfasilitasi identifikasi masalah, argumentasi logis, dan sintesis data. Secara teoretis, temuan ini memperkuat postulat konstruktivisme sosial Vygotsky dalam konteks matematika dasar. Secara praktis, penelitian ini merekomendasikan PjBL sebagai praksis esensial dalam susunan Kurikulum Merdeka untuk mengembangkan kemampuan numerasi peserta didik.
Kata Kunci: PjBL; berpikir kritis; kognisi matematis; pendidikan dasar